Uncategorized

Penelusuran Lokasi ‘KKN Desa Penari’ yang Diduga di Banyuwangi

(foto : sr/dewalive.asia)

Dewalive.asia, Surabaya – Cerita horor ‘KKN di Desa Penari‘ tengah ramai diperbincangkan. Netizen tidak hanya mempertanyakan kebenaran kisah mistis tersebut, tapi juga penasaran dengan lokasi atau desa tempat Kuliah Kerja Nyata (KKN) itu.

(foto: sr/dewalive.asia)

Seperti yang diceritakan Akun Twitter @SimpleM81378523 , ada enam mahasiswa-mahasiswi yang menggelar KKN di Kota B, Jawa Timur pada 2009 akhir. Mereka merupakan mahasiswa-mahasiswi angkatan 2005/2006 dari sebuah perguruan tinggi di Kota S.

Enam calon sarjana yang menggelar KKN tersebut yakni Ayu, Nur, Widya, Wahyu, Anton dan Bima. Untuk menjalankan program kerja yang telah disusun. Ayu berpasangan dengan Bima. Kemudian Wahyu dengan Widya dan Nur dengan Anton.

Berbagai kejanggalan atau hal berbau mistis sudah dirasakan Nur sejak pertama kali menginjakkan kaki di desa tersebut. Seperti mendengar suara gamelan di hutan, melihat penari bahkan hingga diikuti makhluk menyeramkan yang kerap disebut genderuwo (hantu yang konon serupa manusia yang tinggi besar dan berbulu lebat).

Singkat cerita, seabrek hal mistis yang ada di desa tersebut justru berujung tragedi setelah dua di antara mereka melakukan pelanggaran. Ayu, Bima dan Widya terlibat dalam sebuah cinta segitiga. Bima dan Ayu melakukan perzinaan meski dalam hati Bima ingin memiliki Widya.

Tidak sampai di situ, Bima juga berusaha memelet Widya dengan sebuah gelang yang didapatnya dari sosok perempuan (makhluk gaib yang berwujud seorang penari cantik jelita) yang berada di sebuah lereng petilasan. Sedangkan Ayu menyimpan kain selendang sang penari berwarna hijau agar bisa mengambil hati Bima.

Tabir kegelapan di kampung tersebut perlahan terbongkar setelah Bima dan Widya tiba-tiba hilang. Sedangkan Ayu tak sadarkan diri.

Kades setempat, Pak Prabu menyesal telah memberikan izin mereka untuk KKN, setelah Nur menceritakan apa yang dilakukan Bima dan Ayu selama di desa tersebut. Terlebih menurut Prabu, Ayu dan Bima juga telah lancang memilih tempat untuk menjalankan program kerjanya. Yakni di sebuah lereng yang dikeramatkan warga desa.

Tepat di samping lereng, ada tapak tilas. Tempat penduduk desa ini mengadakan pertunjukan tari. Bukan untuk manusia namun untuk jin hutan.

Dengan bantuan tetua desa, Mbah buyut, Widya dan Bima ditemukan. Namun sayang nyawa Bima sudah tidak bisa kembali menyatu dengan tubuhnya. Ayu juga kemudian meregang nyawa dalam upaya penyembuhan yang mengharuskannya dibawa ke luar Pulau Jawa.

Berdasarkan cerita tersebut, warga net kemudian berspekulasi bahwa KKN tersebut digelar di Kota B yang berarti Banyuwangi. Detikcom kemudian menelusuri daerah yang diduga menjadi lokasi peristiwa mistis berujung tragedi itu. Ada dua daerah di Banyuwangi yang diduga memiliki kemiripan dengan latar tempat di cerita horor tersebut. Yakni di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah dan Desa Bayu, Kecamatan Songgon.

(foto : sr/dewalive.asia)

Di Kecamatan Songgon terdapat danau yang berada di sekitar hutan, kaki Gunung Raung. Tepatnya di Kawasan KRPH Perhutani Banyuwangi Barat atau di Dusun Sambungrejo.

Danau itu terletak di sekitar sumber air dan petilasan Prabu Tawang Alun yang dikeramatkan. Lokasi ini berada sekitar 45 kilometer dari pusat Kota Banyuwangi.

Namun Hutan Dadapan yang disebutkan dalam cerita horor tersebut tak ditemukan. Bahkan cerita mistis tentang penari juga tak pernah terdengar di wilayah tersebut.

“Selama ini memang wilayah itu banyak yang bercerita mistis. Tapi memang relatif ya karena masing-masing punya hak sendiri untuk menilai kemistisan sesuatu atau daerah,” ujar Kunto, Camat Songgon kepada dewalive.asia, Jumat (30/8).

Kemudian menurut Kepala Desa Bayu, Sugito, Telaga Rowo Bayu merupakan lokasi sakral masyarakat Banyuwangi saat zaman penjajahan. Ia yakin wilayah tersebut tidak pernah dijadikan tempat Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari perguruan tinggi dari luar Banyuwangi.

“Di sini tidak pernah ada orang KKN dari luar kota. Apalagi sampai ada yang meninggal dunia seperti itu,” ujarnya kepada wartawan.


Sugito mengaku resah dengan adanya cerita horor tersebut. Bahkan dirinya sempat berkeliling memastikan bahwa desanya bukanlah lokasi atau latar dari kisah mistis yang tengah viral di media sosial itu. 

“Saya keliling. Sampai tanya apa ada Hutan Dadapan hingga cerita mistis tentang siluman ular. Semuanya tidak ada,” tambahnya. 

Lalu Devi, salah satu warga Desa setempat mengaku terganggu dengan cerita mistis ‘KKN di Desa Penari‘ yang dikaitkan dengan desanya. Menurutnya tidak ada kemiripan sama sekali lokasi dalam cerita dengan lokasi di desanya. 

“Ya setiap orang tanya terus ke saya. Rusuh juga. Padahal tidak ada sama sekali,” pungkasnya. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *